(16/03/14) – Hari ini, panggilan hati tertuju pada Gelora Bung Karno. Ada apa disana? Ada kampanye terbuka dari Partai Keadilan Sejahtera. Ah ya, kenapa saya begitu tertarik ingin kesana? Karena partai ini yang membuat saya begitu tertarik dengan dunia politik.
“Jangan-jangan, Fathia kader ya?” – Bukan. Saya bukan kader, saya masih pelajar dan belum memilih. Bisa dibilang, simpatisan saja :)
“Terus, kenapa bisa jadi simpatisan PKS?” – Mending, baca terus aje ye..
Seragam hari ini, Putih. Temanya pun, “Putihkan GBK” dan saya siap dengan kaos putih, rok jeans dan jilbab putih. Dengan cuaca Jakarta yang lumayan, putih menjadi busana yang cocok dalam cuaca panas Jakarta. Dan pagi itu, saya berangkat menggunakan motor menuju tempat berkumpulnya rombongan. Hari ini, dari keluarga yang berangkat ber-3. Saya, Bunda dan Ayahanda. Jadi anak tunggal seharian dengan peristiwa yang tak akan dilupakan, seumur hidup saya.
Saya mendapat jatah di Mobil bus 11. Duduk ber-3 dengan Ayah dan Bunda. Penuh rasa dan cerita. Ada 3 mobil bus disana dan kami siap menuju GeBeKa.
Perjalanan pagi ini penuh semangat membara, hati yang tak sabaran, pikiran yang membayang dan tangan yang gatal, mulai mencari inspirasi untuk bahan tulisan. Dan dari pagi ini pun, PKS sudah memberi sebuah inspirasi besar untuk bahan tulisan.
PKS mempunyai sebuah kemasan yang berbeda. Yang membuat saya.... entahlah, selalu tertarik dengan apa yang diciptakan partai tersebut. Apa lagi soal kesolidan kader dan soal pendidikan politik untuk anak mudanya. Partai ini beda. Ya, beda.
Pemandangan Jakarta pagi itu berbeda juga, penuh bis dan putih. Dan saya pikir, PKS kali ini bukan hanya akan memutihkan GBK, tapi juga Jakarta. Selain kekaguman saya bertambah hari ini, saya juga berharap banyak pada Kader PKS yang hadir.
Ketika mereka siap memenuhi GBK dengan semangat mereka, mereka juga harus memenuhi tong sampah dengan sampah-sampah mereka, tanpa ada yang buang sampah sembarangan dan masjid, ikut penuh sepenuh GBK hari itu. Itu harapan saya.
Setelah melewati kemacetan yang lumayan, kami se-rombongan berhasil masuk dan mendapat tempat duduk. Saya siap dengan mata yang akan terus menatap, telinga yang siap mendengar dan lisan yang siap berteriak. Karna hari ini, saya ingin hasil. Bukan hanya cerita biasa-biasa saja. Tapi saya menginginkan suatu hasil dari acara ini. Dan saya, mendapatkannya.
Putihkan GBK hari ini = Militansi + Kesantunan + Kecerdasan + Seni dan Manajemen yang canggih. Menurut saya, 5 aspek tersebut sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan masyarakat tentang betapa kuatnya partai ini dan betapa seriusnya partai ini ingin membangun Indonesia.
Militansi kadernya, kesantunan bahasa mereka, kecerdasan pemikiran mereka, seni PKS dalam menciptakan acara ini dan sistem manajemen pengaturan mereka itu benar-benar membuat saya kagum. Ya bayangkan saja, gimana nggak canggih coba? Bisa mengelola ratusan ribu massa tanpa meninggalkan sedikitpun kekacauan, keributan dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.
Kurang Bukti Apa Lagi coba?
Hari ini saya merasakan tak seperti menghadiri kampanye terbuka, tetapi sedang menyaksikan PKS memberi pendidikan dan ilmu politik untuk saya dan anak-anak muda yang lain. Dan sekali lagi, saya bahagia bisa datang ke GBK hari ini.
Andai saja GBK bisa menampung seluruh rakyat Indonesia dan seluruhnya hadir. Mereka akan merasakan bagaimana bergetarnya hati saya saat Presiden Anis Matta menyampaikan suara hatinya dihiasi oleh hujan. Bagaimana pikiran saya dan hati saya terkagum-kagum atas semangat kadernya, atas prestasi anak kadernya yang “horror” (di kampanye itu, ada acara tampilnya anak-anak muda kader PKS dengan segudang prestasi akademik dll -red), semangat saya jadi terpacu karena mereka.
Dan PKS, hari ini meyakinkan saya, bahwa saya tidak akan pernah menyesal menjadi simpatisannya. Mulai berangkat hingga pulang, saya hanya bisa berucap “Terimakasih, cerita hari ini, PKS”
Karawang, 16 Maret 2014
Fathia Asyafiqah, @Fathia_TS on twitter
___
NB: agak telat admin menemukan tulisan ini, tapi tak ada kata terlambat untuk kebaikan :)
Tulisan ini dihadiahkan untuk saudara kami para remaja muslim. Semoga Allah berkenan membuka pintu kebaikan lewat kelembutan mata hati teman- teman remaja semua, untuk mengetahui lebih jauh tentang siapa dan bagaimanakah diri kita sebenarnya.
Tulisan ini adalah agar kita sama- sama tidak terlalaikan atas kewajiban sebagai seorang muslim, dan supaya hati kita tidak tertutup dan lalai dengan keindahan kehidupan dari mengingat Allah subhanahu wata’ala. Dengan tulisan ini, kita mohonkan kepada Allah agar membebaskan kita dari berbagai dosa yang tiada henti kita lakukan di dunia ini.
Wahai saudaraku para remaja, ketika hidup ini memiliki tujuan, maka kita tidak akan terombang- ambing tanpa arah dan tujuan. Maka berhentilah berkata bahwa kita masih terlalu muda untuk berpikir serius tentang hidup. Bukankah sesuatu yang besar yang kita harapkan datang di masa depan kelak, dan menyenangkan kita, justru akan bermula dari perbuatan kecil yang kita lakukan sekarang?
Saudaraku, para remaja muslim, maka kenalilah tujuan mengapa kita harus dihidupkan Allah di dunia ini. Sungguh Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia- sia.Begitu pula dengan keberadaan diri kita. Hidup bukanlah tentang bersenang-senang saja, tetapi sejatinya untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, itulah sebenarnya tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Wahai saudaraku remaja muslim, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, hidup kita kini sedang menuju sebuah garis akhir yaitu kematian. Dan bahkan peramal sehebat apapun tak akan bisa menebak, kapan langkah kaki kita akan terhenti dan kita akhirnya mati. Dengarlah Firman Allah berikut ini,
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dibumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Maka suka atau tidak suka, mau atau tidak mau sebenarnya hidup itu bukan pilihan. Ya, hidup bukan sama sekali tentang pilihan. Allah memberikan kebaikan supaya engkau baik, dan Allah memberikan pelajaran tentang kejelekan adalah supaya kau juga belajar tentang kebaikan. Jadi kebaikan adalah satu- satunya hal yang harus dipilih. Dan kebaikan itu hanya terkandung dalam islam, yang sekali lagi satu satunya hal yang harus kita pilih. Di dalam islam kita akan justru menemukan banyak pilihan tentang hal- hal yang membahagiakan. Tapi ingatlah, betapapun besarnya kebahagiaan dan kesenangan di dunia, semua pasti akan ada akhirnya. Dan kesenangan abadi seorang muslim adalah ketika nanti kits berada di surganya Allah.
Maka wahai para sahabat muda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sepenuh hati sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada harikiamat, sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)
Bisakah kau bayangkan betapa ruginya kita, apabila kita sampai di usia remaja ini, belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Saudaraku, sudah siapkah kita dengan timbangan amal yang pasti, sekali lagi, pasti kita akan menjumpainya nanti.
Sudahkah kita menghisab amal perbuatan kita sendiri terlebih dahulu, sebelum Allah nanti menghisap kita dan memperlihatkan timbangan amal kita. Bisakah kau bayangkan, betapa sengsaranya kita, ketika ternyata timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan?. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala :
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Selain itu,bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, sudahkah kita gunakan kesempatan di masa muda kita ini untuk kebaikan?
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara:
Umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi)
Wahai sahabat remaja, iblis, setan, dan bala tentaranya akan selalu setia dalam berupaya mengajak manusia agar selalu bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Tidak lain adalah karena mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka.
Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Wahai sahabat remaja, setiap amalan kejelekan dan maksiat yang kita lakukan, pasti akan dicatat di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti kita juga akan melihat akibat buruk dari semua itu, jika hal itu adalah kejahatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Dan barangsiapa yg mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Setan juga ingin umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama segerombolan orang yang kau anggap teman-teman itu, dan melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hal tersebut merupakan wujud solidaritas dan kekompakan. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang mungkin kita cintai akan menjadi musuh yang paling kita benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Maka dari itu, sudah selayaknya kita mengadakan koreksi mendalam tentang diri kita sendiri sekarang. Dan perbaikan diri tentu saja bisa kita lakukan jika kita memiliki ilmu. Saudaraku, jangan gadaikan keharusanmu mengetahui ilmu tentang islam dengan hanya mengunggulkan ilmu tentang duniawi semata. Karena, menuntut ilmu tentang agama kita ini, merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
(NayMa/voa-islam.com)
Pernikahan merupakan ibadah yang memiliki tempat mulia di sisi Allah swt. Tak sedikit dalam bingkai syariat membicarakan tentang pernikahan, apakah itu di dalam Al Quran ataupun hadist-hadist Rasulullah saw. Ketika pernikahan ini berhubungan dengan ibadah maka ibadah tersebut hanyalah akan bernilai di sisi Allah swt jika sesuai dengan bingkai syariat yaitu bingkai Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
Faguza Abdullah
Sumber: http://www.islamedia.web.id/2012/02/taaruf-nikah-tanpa-cinta.html
Rasulullah saw bersabda : "Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak". Tentunya kita tidak ingin serangkaian ibadah ini menjadi tertolak dikarenakan kita melakukan hal-hal yang tidak disandarkan pada Al Quran dan sunnah Rasulullah saw bukan hanya saat prosesi pernikahan saja tapi juga bagaimana jalan menuju pernikahan tersebut.
Apa itu ta’aruf?
Ta’aruf dalam makna umum yang kita ketahui bersama adalah perkenalan, lalu kemudian makna ini dipersempit menjadi proses perkenalan menuju pernikahan dikalangan aktivis dakwah.
Proses ta'aruf yang digunakan sebagai jalan menuju pernikahan tentulah bukan proses seperti orang pacaran atau istilah PDKT (pendekatan). Tapi kemudian proses ini dibingkai sedemikian rupa sehingga nilai ibadah dari proses hingga menuju pernikahan tetaplah terjaga. Dan pastinya proses taaruf yang dibingkai dengan syariat ini bukanlah seperti “taaruf”nya ustadz-ustadz selebriti di tipi.
Proses ini tidak mengenal yang namanya saling sms-an apalagi bbm-an, dua-duaan jalan-jalan apalagi baca quran, belum lagi sering cheting dan fecebookan dengan bingkai taaruf yang berujung tidak jauh beda dengan yang namanya pacaran. Walaupun ngebangunin buat tahajud malam, tetap saja ini bukanlah sebuah proses yang syar’I menuju pernikahan.
Ta’aruf, nikah tanpa cinta?
Berarti ta’aruf itukan menikah tanpa ada cinta? Pastilah akan meuncul pertanyaan yang sangat besar didalam benak. Nah, sebelum dibahas lebih jauh, baca bismillah dulu. Semoga setelah membaca sedikit penjelasan singkat ini pacarnya mau diputusin, atau kalau sering sms-an ama ikhwan atau ikhwat bisa disadari bahwa itu bukanlah cinta tapi justru menghapus cinta bahkan bisa menjadi nista.
Ketika kita berbicara tentang cinta, maka kita akan menemukan sesuatu yang abstrak didalamnya. Apakah benar cinta itu karena cantik, karena harokinya luar biasa, karena pintar, atau karena alasan-alasan lainnya? Atau itu justru sebenarnya lebih kepada rasa suka yang dibalut oleh hawa nafsu semata, karena ketika hal-hal kita sukai tersebut tak kita dapati lagi maka hilang pulalah rasa suka tersebut.
Lalu bagaimana mungkin seseorang itu bisa menikah tanpa cinta?
Yang kita pahami selama ini adalah bahwa rasa cinta itu ada pada suatu pertemuan dimana membuat jantung berdebar kencang dan dada terasa sesak dibuatnya, padahal itu bukanlah cinta.
Yang kita pahami selama ini adalah bahwa rasa cinta itu ada pada suatu pertemuan dimana membuat jantung berdebar kencang dan dada terasa sesak dibuatnya, padahal itu bukanlah cinta.
Allah swt mangatakan didalam Al Quran :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (an-Nuur : 26)
Jika kita bersama mencoba untuk memahami apa arti cinta pada ayat di atas maka sejak kapankah cinta itu ada hingga kemudian Allah swt mempertemukan cinta itu dalam bingkai yang bernama pernikahan? Dan kemudian harus percayakah kita dengan proses yang namanya pacaran atau taarufan gaya ustadz selebritis yang ada? Dengan argument bahwa ini adalah proses memupuk cinta sebelum menuju pernikahan?
Cinta itu ternyata telah ada jauh sebelum pernikahan itu ada. Allah swt akan mempertemukan orang-orang yang mencintai apa-apa yang sama-sama mereka cintai. Ketika sama-sama mencintai maksiat maka itulah yang menjadi landasan cinta mereka dan begitupula ketika sama-sama mencitai Allah swt maka itulah yang akan menjadi landasan cinta mereka sehingga tidak ada lagi hal yang perlu ditumbuhkan atau dipupuk dan justru hanya tinggal menuai hasil setelah proses pernikahan dilangsungkan.
Jadi benarkah taaruf itu menikah tanpa cinta?
Wallahualam
Faguza Abdullah
Sumber: http://www.islamedia.web.id/2012/02/taaruf-nikah-tanpa-cinta.html
REMAJA menjadi usia peralihan yang dihadapi sebagian orangtua dengan penuh ketakutan. Strategi tepat menghadapi remaja akan menjauhkan orangtua dari pikiran buruk dan kekhawatiran tak beralasan.
Kasus penculikan dan tindakan asusila terhadap vokalis Vierra jelas mengundang kekhawatiran bagi orangtua. Seperti diberitakan, Widi diculik tiga lelaki tak dikenal saat hendak pulang dari sebuah kafe di kawasan Kemang pada Rabu 6 Juli 2011, sekira pukul 04.00 WIB. Ia memang sempat disekap di dalam mobil selama 30 menit, tapi beruntung para penculik melepaskannya setelah tahu identitas Widi yang seorang artis.
Dunia remaja adalah dunia yang penuh warna di mana anak mulai penasaran untuk mengenal dunia di luar dirinya. Masa remaja juga kerap menjadi momentum bagi seorang anak untuk mendapatkan “tiket kebebasan” dari orangtua. Benarkah?
“Anak perlu bergaul, iya. Menurut saya, seorang anak yang belum berusia 21 tahun tetaplah anak-anak. Dia belum bisa bertanggung jawab terhadap dirinya. Di bawah usia itu, meskipun sudah punya KTP, dia masih jadi tanggung jawab orangtua, ada aturan tegas yang harus dia patuhi,” tutur psikolog Ratih Andjayani Ibrahim ketika dihubungi okezone, Kamis (7/7/2011).
“Mengapa 21 tahun? Ini sesuai tahapan perkembangan dari muda menuju dewasa bahwa secara fisik, emosional, dan sosial dia sudah siap diberikan tanggung jawab,” imbuhnya.
Banyak cerita bagaimana seorang remaja memberontak untuk mematuhi batasan dan aturan yang diberikan orangtua. Menurut Ratih, kunci kepatuhan anak terletak pada orangtua.
“Apakah orangtua bisa mengkomunikasikan aturannya secara baik dan apakah mereka bisa menjadi role model. Intinya, apakah orangtua bisa menjalankan fungsinya dengan baik? Wibawa harus ditegakkan di rumah,” tandasnya.
Wibawa dimaksud, tambah Ratih, bukan sikap otoriter melainkan keterbukaan lewat komunikasi. Seperti juga dikatakan psikolog Dra Emilia Naland MSi, komunikasi mencakup diskusi soal batasan yang diinginkan orangtua kepada anak.
“Sifatnya private karena setiap orangtua punya aturan yang berbeda untuk anak-anaknya, misalnya soal pulang malam; apakah anak wajib melapor, apakah orangtua boleh menelpon selama aktivitas anak di luar rumah, apakah anak boleh menginap di rumah temannya, dan sebagainya,” katanya kepada okezone lewat telepon seluler.
Orangtua sepatutnya juga menempatkan diri mereka pada dunia remaja. “Orangtua harus masuk ke dunia remaja. Harus paham bahwa ini adalah dunia yang unik, emosional, dan cara berpikir anak mulai berubah. Caranya, orangtua terlibat dalam akvitas anak,” imbuh psikolog dari Fame (Family and Community Education) ini.
Lantas, apakah anak tidak akan merasa risih bila “dibuntuti”? “Kalau sebelumnya orangtua enggak pernah mau tahu aktivitas anak dan pas remaja mau ikut campur, mereka pasti menolak. Orangtua sudah harus dekat sebelumnya,” ujarnya.
Rasa percaya bisa terbangun bila orangtua sudah menjalin komunikasi yang baik dengan anak sebelum akhirnya usia mereka menginjak remaja.
“Dengan relasi dan pengasuhan yang baik, anak enggak akan macam-macam kok. Sudah komunikasi baik saja kadang protes dan bertengkar kalau dilarang, apalagi kalau selama ini enggak ada interaksi,” tutup Ratih. (ftr)
Kasus penculikan dan tindakan asusila terhadap vokalis Vierra jelas mengundang kekhawatiran bagi orangtua. Seperti diberitakan, Widi diculik tiga lelaki tak dikenal saat hendak pulang dari sebuah kafe di kawasan Kemang pada Rabu 6 Juli 2011, sekira pukul 04.00 WIB. Ia memang sempat disekap di dalam mobil selama 30 menit, tapi beruntung para penculik melepaskannya setelah tahu identitas Widi yang seorang artis.
Dunia remaja adalah dunia yang penuh warna di mana anak mulai penasaran untuk mengenal dunia di luar dirinya. Masa remaja juga kerap menjadi momentum bagi seorang anak untuk mendapatkan “tiket kebebasan” dari orangtua. Benarkah?
“Anak perlu bergaul, iya. Menurut saya, seorang anak yang belum berusia 21 tahun tetaplah anak-anak. Dia belum bisa bertanggung jawab terhadap dirinya. Di bawah usia itu, meskipun sudah punya KTP, dia masih jadi tanggung jawab orangtua, ada aturan tegas yang harus dia patuhi,” tutur psikolog Ratih Andjayani Ibrahim ketika dihubungi okezone, Kamis (7/7/2011).
“Mengapa 21 tahun? Ini sesuai tahapan perkembangan dari muda menuju dewasa bahwa secara fisik, emosional, dan sosial dia sudah siap diberikan tanggung jawab,” imbuhnya.
Banyak cerita bagaimana seorang remaja memberontak untuk mematuhi batasan dan aturan yang diberikan orangtua. Menurut Ratih, kunci kepatuhan anak terletak pada orangtua.
“Apakah orangtua bisa mengkomunikasikan aturannya secara baik dan apakah mereka bisa menjadi role model. Intinya, apakah orangtua bisa menjalankan fungsinya dengan baik? Wibawa harus ditegakkan di rumah,” tandasnya.
Wibawa dimaksud, tambah Ratih, bukan sikap otoriter melainkan keterbukaan lewat komunikasi. Seperti juga dikatakan psikolog Dra Emilia Naland MSi, komunikasi mencakup diskusi soal batasan yang diinginkan orangtua kepada anak.
“Sifatnya private karena setiap orangtua punya aturan yang berbeda untuk anak-anaknya, misalnya soal pulang malam; apakah anak wajib melapor, apakah orangtua boleh menelpon selama aktivitas anak di luar rumah, apakah anak boleh menginap di rumah temannya, dan sebagainya,” katanya kepada okezone lewat telepon seluler.
Orangtua sepatutnya juga menempatkan diri mereka pada dunia remaja. “Orangtua harus masuk ke dunia remaja. Harus paham bahwa ini adalah dunia yang unik, emosional, dan cara berpikir anak mulai berubah. Caranya, orangtua terlibat dalam akvitas anak,” imbuh psikolog dari Fame (Family and Community Education) ini.
Lantas, apakah anak tidak akan merasa risih bila “dibuntuti”? “Kalau sebelumnya orangtua enggak pernah mau tahu aktivitas anak dan pas remaja mau ikut campur, mereka pasti menolak. Orangtua sudah harus dekat sebelumnya,” ujarnya.
Rasa percaya bisa terbangun bila orangtua sudah menjalin komunikasi yang baik dengan anak sebelum akhirnya usia mereka menginjak remaja.
“Dengan relasi dan pengasuhan yang baik, anak enggak akan macam-macam kok. Sudah komunikasi baik saja kadang protes dan bertengkar kalau dilarang, apalagi kalau selama ini enggak ada interaksi,” tutup Ratih. (ftr)
Anak Rohis juga manusia. Punya hati, punya rasa. Juga, tentu punya rasa suka dan bisa jatuh cinta. Huhuy! Justru kalo anak rohis nggak pernah bisa merasa jatuh cinta adalah kagak normal, atau jangan-jangan bukan makhluk hidup. Wacks! Ya iyalah, kalo masih merasa manusia sih ya pasti punya rasa cinta. Hewan aja punya kok. Selama masih hidup. Tapi tentu manusia punya aturan dalam mengekspresikan cintanya. Ada syariat yang harus ditaati. Kalo hewan nggak ada syariat yang harus mereka taati. Bener lho.
Kalo manusia sih untuk mencintai manusia lainnya harus jelas aturan mainnya. Kalo hewan? Nggak ada. Emang pernah dengar ada kambing jantan yang tertarik dengan kambing betina terus mereka mengikatnya dengan khitbah untuk seterusnya menikah dan diramein dengan pesta ngundang tamu dan diiringi hiburan nasyid? Hihihi.. film kartun kaleee!
Bro en Sis, karena aktivis Rohis (kerohanian Islam) juga punya rasa suka dan rasa cinta, pasti mereka pernah dong ngalamin yang namanya DDA alias debar-debar asmara. Meskipun dalam mengekspresikannya agak sedikit beda ama remaja umumnya. Kalo remaja umumnya langsung kenalan, terus janjian dan jadian deh dalam ikatan bernama pacaran. Kalo anak Rohis? Kalo untuk pacaran secara terang-terangan kayaknya jarang ada. Mungkin mereka malu. Tapi kalo yang dikamuflase dengan istilah “pacaran islami” kayaknya banyak deh. Ini juga sering dianggap sebagai pembenaran atas aktivitas yang dilakoninya. Halah!
Ngaji doyan, pacaran kuat
Nah lho, nggak salah nih ngasih subjudul? Hehehe... kamu jangan protes dulu dong. Banyak juga lho yang ngaji tapi pacarannya minta ampun kuatnya. Ini khusus berlaku buat yang ngajinya cuma ikut-ikutan or emang nggak paham. Termasuk yang ngerasa udah tahu tentang hukum Islam, tapi nggak sampe paham dan cuma teori doang, sementara praktiknya nol gede. So, cuma modal semangat aja, tanpa pengen paham lebih dalam. Kadang, ada juga lho yang emang nafsunya lebih gede ketimbang nalarnya. Maaf ye bagi yang kesinggung. Itu tandanya dirimu masih manusia. Ya iyalah, kalo monyet sih dihina ama dipuji tetep diem aja kagak ngarti, boro-boro tersinggung. Jadi, kalo masih tersinggung berbahagialah karena kamu masih manusia. Pletak!
Nah lho, nggak salah nih ngasih subjudul? Hehehe... kamu jangan protes dulu dong. Banyak juga lho yang ngaji tapi pacarannya minta ampun kuatnya. Ini khusus berlaku buat yang ngajinya cuma ikut-ikutan or emang nggak paham. Termasuk yang ngerasa udah tahu tentang hukum Islam, tapi nggak sampe paham dan cuma teori doang, sementara praktiknya nol gede. So, cuma modal semangat aja, tanpa pengen paham lebih dalam. Kadang, ada juga lho yang emang nafsunya lebih gede ketimbang nalarnya. Maaf ye bagi yang kesinggung. Itu tandanya dirimu masih manusia. Ya iyalah, kalo monyet sih dihina ama dipuji tetep diem aja kagak ngarti, boro-boro tersinggung. Jadi, kalo masih tersinggung berbahagialah karena kamu masih manusia. Pletak!
Oya, gaya pacaran aktivis Rohis agak lain. Awalnya sih ukhuwah, tapi kebablasan jadi demenen. Mulanya cuma bergaul sesama pengurus pengajian, lama-lama muncul benih-benih cinta. Bersemi dalam dada dan melahirkan kerinduan. Huhuy! Ati-ati, bisa gaswat!
Sobat muda muslim, jangan heran or jangan kaget, sebab siapa pun orangnya, termasuk anak ngaji, bisa tumbuh dalam dirinya rasa cinta, rasa sayang, juga pengen memiliki begitu ngelihat lawan jenisnya. Ser-seran aja dalam dada kalo kebetulan bertemu di masjid or di perpustakaan. Bergetaran dalam jiwa (apalagi kalo ditambah naik bajaj, dijamin vibrasinya lebih kuat tuh! Halah!). Pokoknya, seperti ada yang bergejolak dalam hati. Tapi sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata (cieee…). Pokoknya, bikin jantung berdetak dua kali lebih kenceng deh. But, itu wajar kok. Namanya juga manusia. Suer.
Malah boleh jadi, kalo iman kamu nggak kuat-kuat amat, bisa-bisa kecemplung melakoni aktivitas pacaran layaknya mereka yang masih awam dengan ajaran Islam. Maklumlah sobat, kalo nafsu udah jadi jenderal, akal sehat jadi keroconya. Celaka dua belas euy!
Saat cinta mulai bersemi
Cinta itu ibarat jelangkung. Datang nggak dijemput, pulang pun nggak dianter. Suka tiba-tiba aja datangnya. Udah gitu, nggak mengenal status lagi. Mau doi pelajar, guru, tokoh masyarakat, anak ngaji, ulama, dan bahkan kepala negara. Cinta bakalan tumbuh di dada mereka. Kamu masih inget kali ye kasusnya Bill Clinton dan Monica Lewynski? Hmm.. itu perselingkuhan yang mengguncang Gedung Putih beberapa tahun lalu. Geger seisi dunia. Awalnya, jelas rasa cinta. Meski akhirnya disalip oleh hawa nafsu.
Cinta itu ibarat jelangkung. Datang nggak dijemput, pulang pun nggak dianter. Suka tiba-tiba aja datangnya. Udah gitu, nggak mengenal status lagi. Mau doi pelajar, guru, tokoh masyarakat, anak ngaji, ulama, dan bahkan kepala negara. Cinta bakalan tumbuh di dada mereka. Kamu masih inget kali ye kasusnya Bill Clinton dan Monica Lewynski? Hmm.. itu perselingkuhan yang mengguncang Gedung Putih beberapa tahun lalu. Geger seisi dunia. Awalnya, jelas rasa cinta. Meski akhirnya disalip oleh hawa nafsu.
Hati-hati lho, anak ngaji juga bisa tergoda saat cinta mulai bersemi. Ehm..ehm.. (ditambah pura-pura batuk nih) kamu jadi sering tampil klimis kalo pergi ke sekolah or kampus. Dandanan jadi rapi jali. Pendek kata, pengen tampil beda dan sempurna di hadapan sang pujaan hati. Sering terjadi lho. Cinta lokasi sesama aktivis pengajian. Wajar euy, sebab cinta itu naluriah. Udah built-in saat manusia diciptakan oleh Allah Swt. Dalam salah satu firmanNya disebutkan:”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,” (QS Ali Imraan [3]:14)
Cuma masalahnya, saat cinta mulai bersemi, jarang ada yang bisa bertahan dari godaannya yang kadang menggelapkan mata dan hati seseorang. Jangan heran dong kalo sampe ada yang nekat pacaran. Wah, aktivis pengajian kok pacaran? Malu atuh!
Kalo udah gitu, bisa ngerusak predikat tuh. Bener. Sebab, serangan kepada orang yang dianggap tahu dan paham agama lebih kenceng. Jadi kalo ada aktivis pengajian (anak Rohis) yang pacaran, orang di sekililing mereka dengan sengit mengolok-olok, mencemooh, bahkan mencibir sinis. Kejam juga ya? Bandingkan dengan orang yang belum paham agama, atau nggak aktif di organisasi kerohanian Islam, biasa-biasa aja tuh. Sobat, inilah semacam ‘hukuman sosial’ yang kudu ditanggung seseorang yang udah dipandang ngerti. Padahal, sama aja dosanya. Tapi, seolah lebih besar kalo itu dilakukan oleh aktivis pengajian. Gawat!
Jadi hati-hati deh, jangan sampe kamu kebablasan jadi demenan, padahal kamu niat awalnya mau menjalin ukhuwah sesama aktivis Rohis. Jadi, jelas emang kudu ada aturan mainnya. Nggak sembarangan bergaul, lho.
Jangan main api dong!
Iya, bara bisa jadi api yang berkekuatan besar dalam membakar apa saja yang ada di hadapannya, manakala kita rajin ngipasin. Makanya, jangan main bara api nafsu, bisa berabe dan bikin banyak dosa. Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! (hei! kok kayak Bang Napi sih? Hihihi...). Gaul bebas bisa bablas euy!
Iya, bara bisa jadi api yang berkekuatan besar dalam membakar apa saja yang ada di hadapannya, manakala kita rajin ngipasin. Makanya, jangan main bara api nafsu, bisa berabe dan bikin banyak dosa. Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! (hei! kok kayak Bang Napi sih? Hihihi...). Gaul bebas bisa bablas euy!
Oke deh, supaya gaul kamu sesama aktivis pengajian selamat di dunia dan di akhirat, ada beberapa poin yang kudu diperhatikan. Jangan sampe ukhuwah malah berubah jadi pacaran.
Pertama, kurangi frekuensi pertemuan yang nggak perlu. Memang, kalau sudah cinta, berpisah sejam serasa 60 menit, eh maksudnya sewindu (lama amat! Hiperbolis nih!). Bawaannya pengen ketemu melulu. Ini nggak sehat, Bro. Perbuatan seperti itu bukannya meredam gejolak, tapi akan memperparah suasana hati kita. Pikiran dan konsentrasi kita malah makin nggak karuan. Selain itu bukan mustahil kalo kebaikan yang kita kerjakan jadi tidak ikhlas karena Allah. Misal, karena si doi jadi moderator di acara pengajian, eh kita bela-belain datang karena pengen ngeliat si doi, bukan untuk nyimak pengajiannya itu sendiri.
Yup, kurangi frekuensi pertemuan, apalagi kalau memang tidak perlu. Kalo sekadar untuk minjem buku catatan, ngapain minjem pada si doi, cari aja teman lain yang bisa kita pinjam bukunya. Lagipula, kalo kamu nggak sabaran, khawatir ada pandangan negatif dari si doi. Bisa-bisa kamu dicap sebagai ikhwan agresif atau akhwat yang genit. Zwing...zwing.. gubrak!
Kedua, jangan ‘menggoda’ dengan gaya bicara dan penampilan yang gimanaa.. gitu. Jadi jangan saling memberi perhatian. Bisa-bisa diterjemahkan lain lho. Ati-ati deh. Firman Allah Swt. (yang artinya):”Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkan perkataan), nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang baik. “ (QS. al-Ahzab [33]: 32)
Ketiga, menutup aurat. Nggak salah neh? Kalo aktivis kan udah ngeh soal itu Bang? Bener. Harusnya memang begitu. Tapi, banyak juga yang belum tahu bagaimana cara mengenakan busana sesuai syariat. Akhwatnya masih pake kerudung gaul yang ‘cepak’ abis! (kalo yang bener kan ‘gondrong’. Maksudnya lebar gitu lho.). Iya, kerudungnya aja modis banget. Pake gaya dililit ke belakang, dan untung aja nggak ditarik lagi ke atas (gantung diri kalee..). Terus, bibirnya dipoles lipstik tebel-tebel. Bedakannya menor pula. Minyak wanginya? Bikin ikan sekolam teler! (apa hubungannya?)
So, buat para akhwat, jangan tabarujj deh. Duh, kebayang banget lucunya kalo aktivis pengajian tabarujj alias tampil pol-polan dengan memamerkan kecantikannya. Allah Swt. berfirman: “...dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzab [33]: 33)
Keempat, kurangi berhubungan. Mungkin ketemu langsung sih nggak, tapi komunikasi jalan terus tuh. Mulai dari sarana ‘tradisional’ macam surat via pos, sampe yang udah canggih macam via telepon, HP, dan juga internet. Wuih, ketemu langsung emang jarang, tapi kirim SMS dan nelponnya kuat. Apalagi kalo urusan chatting, pake ada jadwalnya segala. Udah gitu, kirim-kirim e-mail pula. Hmm... jadi tetep berhubungan kan? Emang sih bukan masuk kategori khalwat. Tapi itu bikin suasana hati makin nggak kondusif karena mikirin si dia aja. Nggak percaya? Don’t be tried! Jangan dicoba!
Kelima, jaga hati. Ya, meski sesama aktivis Rohis, bisikan setan tetap berlaku. Bahkan sangat boleh jadi makin kuat komporannya. Itu sebabnya, kalo hatimu panas terus karena panah asmara itu, dinginkan hati dengan banyak mengingat Allah. Mengingat dosa-dosa yang udah kita lakukan ketika sholat dan membaca al-Quran. Firman Allah Swt.: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenang.” (QS ar-Ra’du [13]: 28)
Oke deh, kamu udah punya modal sekarang. Hati-hatilah dalam bergaul dengan teman satu pengajian. Jaga diri, kesucian, dan kehormatan kamu dan temanmu. Jangan nekat berbuat maksiat. Kalo udah kebelet, (emangnya buang hajat?) segera menikah saja kalo emang udah mampu. Kalo belum mampu karena masih sekolah? Banyakin aktivitas bermanfaat dan seringlah berpuasa.
Emang sih kalo pengen lebih mantap solusinya, kudu ada kerjasama semua pihak; individu, masyarakat dan juga negara. Hmm.. soal cinta juga urusan negara ya? Yup, negara wajib meredam dan memberantas faktor-faktor yang selalu ngomporin masyarakat untuk berbuat yang negatif. Jadi, jangan sampe ukhuwah kita berubah jadi demenan! Pokoknya, malu atuh kalo ngajinya getol, tapi pacaran juga puool. Catet yo![solihin: www.osolihin.wordpress.com]
sumber: dudung.net








