(16/03/14) – Hari ini, panggilan hati tertuju pada Gelora Bung Karno. Ada apa disana? Ada kampanye terbuka dari Partai Keadilan Sejahtera. Ah ya, kenapa saya begitu tertarik ingin kesana? Karena partai ini yang membuat saya begitu tertarik dengan dunia politik.
“Jangan-jangan, Fathia kader ya?” – Bukan. Saya bukan kader, saya masih pelajar dan belum memilih. Bisa dibilang, simpatisan saja :)
“Terus, kenapa bisa jadi simpatisan PKS?” – Mending, baca terus aje ye..
Seragam hari ini, Putih. Temanya pun, “Putihkan GBK” dan saya siap dengan kaos putih, rok jeans dan jilbab putih. Dengan cuaca Jakarta yang lumayan, putih menjadi busana yang cocok dalam cuaca panas Jakarta. Dan pagi itu, saya berangkat menggunakan motor menuju tempat berkumpulnya rombongan. Hari ini, dari keluarga yang berangkat ber-3. Saya, Bunda dan Ayahanda. Jadi anak tunggal seharian dengan peristiwa yang tak akan dilupakan, seumur hidup saya.
Saya mendapat jatah di Mobil bus 11. Duduk ber-3 dengan Ayah dan Bunda. Penuh rasa dan cerita. Ada 3 mobil bus disana dan kami siap menuju GeBeKa.
Perjalanan pagi ini penuh semangat membara, hati yang tak sabaran, pikiran yang membayang dan tangan yang gatal, mulai mencari inspirasi untuk bahan tulisan. Dan dari pagi ini pun, PKS sudah memberi sebuah inspirasi besar untuk bahan tulisan.
PKS mempunyai sebuah kemasan yang berbeda. Yang membuat saya.... entahlah, selalu tertarik dengan apa yang diciptakan partai tersebut. Apa lagi soal kesolidan kader dan soal pendidikan politik untuk anak mudanya. Partai ini beda. Ya, beda.
Pemandangan Jakarta pagi itu berbeda juga, penuh bis dan putih. Dan saya pikir, PKS kali ini bukan hanya akan memutihkan GBK, tapi juga Jakarta. Selain kekaguman saya bertambah hari ini, saya juga berharap banyak pada Kader PKS yang hadir.
Ketika mereka siap memenuhi GBK dengan semangat mereka, mereka juga harus memenuhi tong sampah dengan sampah-sampah mereka, tanpa ada yang buang sampah sembarangan dan masjid, ikut penuh sepenuh GBK hari itu. Itu harapan saya.
Setelah melewati kemacetan yang lumayan, kami se-rombongan berhasil masuk dan mendapat tempat duduk. Saya siap dengan mata yang akan terus menatap, telinga yang siap mendengar dan lisan yang siap berteriak. Karna hari ini, saya ingin hasil. Bukan hanya cerita biasa-biasa saja. Tapi saya menginginkan suatu hasil dari acara ini. Dan saya, mendapatkannya.
Putihkan GBK hari ini = Militansi + Kesantunan + Kecerdasan + Seni dan Manajemen yang canggih. Menurut saya, 5 aspek tersebut sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan masyarakat tentang betapa kuatnya partai ini dan betapa seriusnya partai ini ingin membangun Indonesia.
Militansi kadernya, kesantunan bahasa mereka, kecerdasan pemikiran mereka, seni PKS dalam menciptakan acara ini dan sistem manajemen pengaturan mereka itu benar-benar membuat saya kagum. Ya bayangkan saja, gimana nggak canggih coba? Bisa mengelola ratusan ribu massa tanpa meninggalkan sedikitpun kekacauan, keributan dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.
Kurang Bukti Apa Lagi coba?
Hari ini saya merasakan tak seperti menghadiri kampanye terbuka, tetapi sedang menyaksikan PKS memberi pendidikan dan ilmu politik untuk saya dan anak-anak muda yang lain. Dan sekali lagi, saya bahagia bisa datang ke GBK hari ini.
Andai saja GBK bisa menampung seluruh rakyat Indonesia dan seluruhnya hadir. Mereka akan merasakan bagaimana bergetarnya hati saya saat Presiden Anis Matta menyampaikan suara hatinya dihiasi oleh hujan. Bagaimana pikiran saya dan hati saya terkagum-kagum atas semangat kadernya, atas prestasi anak kadernya yang “horror” (di kampanye itu, ada acara tampilnya anak-anak muda kader PKS dengan segudang prestasi akademik dll -red), semangat saya jadi terpacu karena mereka.
Dan PKS, hari ini meyakinkan saya, bahwa saya tidak akan pernah menyesal menjadi simpatisannya. Mulai berangkat hingga pulang, saya hanya bisa berucap “Terimakasih, cerita hari ini, PKS”
Karawang, 16 Maret 2014
Fathia Asyafiqah, @Fathia_TS on twitter
___
NB: agak telat admin menemukan tulisan ini, tapi tak ada kata terlambat untuk kebaikan :)
Fatwa Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar Ruhailiy -Hafizhohullah- (guru besar fak. Dakwah wa Ushuluddin Ismic University of Madinah, salah seorang ulama yang mengajar di masjid Nabawi) mengenai PEMILU di Indonesia.
Kemarin kita sudah mendengar seksama fatwa Syaikh Abdulmuhsin al Abbbad Hafizhohullah mengenai PEMILU di Indonesia. Mungkin diantara saudara sekalian masih ada yang belum merasa mantap; antara memberikan hak suara atau golput…? Baiklah, semoga fatwa Syaikh Ibrahim ar Ruhailiy kali ini membantu Anda untuk menentukan langkah yang tepat.
Semalam di majelis Syaikh Ibrahim ar Ruhailiy di masjid Nabawi, ada seorang hadirin bertanya kepada beliau,
“Sebentar lagi di negeri kami akan ada PEMILU. Apa nasehat Anda dalam menyikapi PEMILU tersebut.. ?”
Jawaban Syaikh:
” Sejatinya memilih pemimpin dengan cara seperti itu tidak disyariatkan. Karena ada unsur tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan karena pada asalnya kepemimpinan itu tidak diberikan kepada orang yang memintanya. Kita lihat dalam dunia PEMILU saat ini, setiap kandidat yang mencalonkan diri menyeru kepada masyarakat agar memilih dirinya. Sebagaimana yang sudah kita kenal dengan istilah kampanye. Setiap kandidat berseru kepada masyarakat,
” Pilih saya..” dengan dibumbuhi obralan janji-janji supaya masyarakat mau memilihnya. Ini merupakan alasan paling sederhana yang menunjukkan tidak benarnya sistem PEMILU. Jadi memang pada asalnya tidak dibenarkan dan tidak disyariatkan, karena pada prinsipnya tampuk kepemimpinan itu tidak diberikan kepada orang yang memintanya…
Seandainya Syariat ini diterapkan, kemudian ada serang berkata,” Pilihlah saya sebagai pemimpin kalian..” niscaya tak seorang muslimpun yang mau memilihnya sebagai pemimpin, sebagai bentuk komitmen mereka terhadap Syariat.
AKAN TETAPI…
bila PEMILU di suatu negara itu merupakan suatu keharusan bagi kaum muslimin, dan kaum muslimin tidak memiliki otoritas. Yang mendapatkan suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemimpin serta kandidat yang maju lebih dari satu orang, kemudian kaum muslimin menilai bahwa mashlahat bagi kaum muslimin ada pada salah seorang dari kandidat tersebut, boleh jadi karena kebaikannya lebih dominan atau karena keburukannya yang lebih sedikit. Maka dalam keadaan seperti itu boleh-boleh saja seorang muslim ikut memberikan hak suaranya untuk memilih kandidat tersebut. Sebagai bentuk pengamalan terhadap kaedah :
bila PEMILU di suatu negara itu merupakan suatu keharusan bagi kaum muslimin, dan kaum muslimin tidak memiliki otoritas. Yang mendapatkan suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemimpin serta kandidat yang maju lebih dari satu orang, kemudian kaum muslimin menilai bahwa mashlahat bagi kaum muslimin ada pada salah seorang dari kandidat tersebut, boleh jadi karena kebaikannya lebih dominan atau karena keburukannya yang lebih sedikit. Maka dalam keadaan seperti itu boleh-boleh saja seorang muslim ikut memberikan hak suaranya untuk memilih kandidat tersebut. Sebagai bentuk pengamalan terhadap kaedah :
ارتكاب أخف للضررين
” Memilih mudharat yang paling ringan dari dua mudharat.”
Atau mengaplikasikan kaedah lain yang sudah dikenal oleh para Ulama:
الضرورة تبيح المحظورات
” Kondisi dharurat membolehkan sesuatu yang dilarang.”
Hal ini sudah dijelaskan oleh para Ulama kibar dan mereka juga telah memberikan fatwa terhadap permasalahan ini, seperti Syaikh Abdulaziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin dan yang lainnya.
Namun tak dapat dipungkiri, masih ada sebagian orang yang memilih untuk golput dengan alasan, “kami tidak mengakui keabsahan PEMILU..”
Sehingga dampaknya adalah keberadaan kaum muslimin di tengah-tengah masyarakat suatu negeri tidak ada nilainya (dalam memilih pemimpin). Semua orang telah mengetahui bahwa kaum muslimin tidak ikut PEMILU, artinya kaum muslimin tidak ada andil dalam memilih pemimpin di suatu negeri, sehingga mereka hanya pasrah terima jadi saja tanpa memperhatikan nasib hak-hak mereka kedepannya. Berbeda halnya bila mereka menyadari bahwa keberadaan kaum muslimin di suatu negara itu memiliki pengaruh, sampai halnya di negara kafirpun, demi terpenuhinya hak-hak mereka kedepannya. Oleh karena itu dalam keadaan seperti ini kita katakan,
“tidak mengapa ikut memilih kandidat yang kepemimpinannya kelak akan memberi mashlahat bagi kaum muslimin.”
Akan tetapi perlu kita ingat… bahwa niat keikutsertaan kita dalam PEMILU adalah demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, bukan karena melegalkan PEMILU. Rasulullah Shallallahualaihiwasallam bersanda,
” اِنما الأعمال بالنيات
” Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat.”
Ini saja yang bisa saya sampaikan, Allahu a’lam..”
……..
……..
Catatan :
1. Fatwa ini tidak ada kaitannya dengan partai tertentu
2. Dasar yang melandasi fatwa ini adalah kaidah yang berlaku pada bab maslahat dan mudharat: Apabila bertemu dua mafsadah, maka diambil mafsadah yang paling ringan, dan kaedah: keadaan dharurat membolehkan sesuatu yang dilarang.
3. Fatwa ini bukan sebagai bentuk legitimasi terhadap sistem demokrasi.
1. Fatwa ini tidak ada kaitannya dengan partai tertentu
2. Dasar yang melandasi fatwa ini adalah kaidah yang berlaku pada bab maslahat dan mudharat: Apabila bertemu dua mafsadah, maka diambil mafsadah yang paling ringan, dan kaedah: keadaan dharurat membolehkan sesuatu yang dilarang.
3. Fatwa ini bukan sebagai bentuk legitimasi terhadap sistem demokrasi.
20 Jumadil Ula 1435 H
Kita tak ikut merasakan suasana peperangan di bukit uhud
Atau merasakan kemenangan fenomenal pasukan Yarmuk
Kita tak ikut serta menggali parit ditengah musim dingin yg menusuk
Yerusalem yang takluk
Dan Konstantinopel yang bertekuk lutut
Kita semua tak ada disana
Tak ada nama kita dalam catatan Malaikat sebagai orang yang ikut serta
Faktanya..sekarang kita disini..Indonesia
Inilah hari hari yang takkan kembali
Maka rasakanlah..
Rasakan setiap detail getarannya
Rasakan segala bentuk rintangannya
Ini adalah hari hari yang takkan kembali
Maka nikmatilah
Nikmati setiap lelahnya
Nikmati semua dekap kebersamaannya
Setiap tetes keringat kita
Setiap langkah kaki kita
Setiap ketukan kita dari rumah ke rumah
Setiap malam yang kita gunakan untuk terjaga
Siang hari yang kita habiskan dibawah sang surya
Nikmatilah semuanya kawan
Karena ini adalah hari hari yang takkan kembali
Pastikan kali ini nama kita tak luput dari catatan malaikat
*by @nastarabdullah
sumber: pkspiyungan



